5 Mindset Mindless Buying. Hindari Ya!

0 Shares
0
0
0

Menjadi conscious consumer atau konsumen yang sadar dan bijak berkonsumsi dimulai dengan menerapkan mindset mindful buying. Mindset ini menuntun kita untuk membeli secara sadar agar kita memiliki kendali atas kebiasaan belanja dan kesejahteraan emosional. Tapi, sadar enggak sih kalau dalam berkonsumsi, kita banyak dipengaruhi oleh mindset lawas yang ternyata kalau ditelaah lebih jauh bisa mendorong kita ke arah mindless buying dan memacu kita untuk belanja secara impulsif. 

Membeli tanpa berpikir sangat tidak disarankan saat kita sedang #BelajarJadiMinimalis. Kebanyakan orang sudah banyak pertimbangan dan perhitungan sebelum membeli sesuatu, kadang tekad kita goyah ketika sampai pada pembelian yang tampaknya kecil. Lakukanlah pembelian dengan rencana agar kebiasaan membayar hal-hal yang tidak digunakan dapat dihindari. (Sumber: https://www.forbes.com/pictures/glmd45eff/paying-for-things-you-do/?sh=74774030729c)

Kebiasaan berbelanja yang tidak dipikirkan ini berdampak serius pada kehidupan sehari-hari, termasuk penyesalan pembelian, prioritas keuangan yang tidak tepat, dan peningkatan tingkat kecemasan dan ketidakbahagiaan. Pada akhirnya hal itu dapat menyebabkan hutang yang tidak perlu, membebani hubungan dan bahkan berkontribusi pada kecenderungan menimbun. Berbelanja secara cermat dapat mengatasi dorongan impulsif yang menjadi akar dari pengeluaran yang sembrono, dan dapat berfungsi sebagai cara untuk mendapatkan kembali kendali atas saldo rekening dan kesejahteraan emosional. (Sumber: https://www.readersdigest.ca/home-garden/money/mindful-shopping/)

Photo by rupixen.com on Unsplash

Berikut adalah 5 mindset yang harus ditinggalkan untuk mempraktikkan pembelian secara sadar sesuai konsep #BijakBerkonsumsi.

  1. Buy now cry later

Buy now di sini meningkatkan urgensi yang mendorong kita membeli suatu barang saat itu juga tanpa berpikir berkali-kali terlebih dulu. Instead of crying later, ask yourself before purchasing something. Teliti terhadap barangnya, riset dulu sebelum beli. Bahkan kita sering lalai dalam membaca deskripsi produk di caption atau keterangan di website dan e-commerce. Selain membuat kita jadi lebih sadar terhadap apa yang ingin kita beli, membaca deskripsi produk juga termasuk tindakan menghargai penjual yang sudah memberikan penjelasan produk. Setelah itu, kita dapat membandingkan terlebih dahulu setiap barang dari mulai harga, ulasan pembeli, hingga kualitas merk A dengan merk B. 

Misalnya saja saat melakukan pembelian kecantikan. Bagi perempuan, perlu untuk melakukan riset sebelum membeli beauty products. Ketelitian membaca kegunaan produk sesuai dengan kebutuhan kulit haruslah dipertimbangkan. Hal ini dilakukan supaya kita tidak membeli produk yang mubazir karena ternyata produk yang nggak cocok sama kulit. Sadar dan bijak mengkonsumsi sebelum membeli, pikir dulu supaya kita gak nyesel kemudian.

  1. Lebih baik nyesel beli dibanding nyesel nggak beli 

Quality over quantity, kadang barang yang lebih mahal itu kepuasannya juga pasti semakin besar karena kita bisa memastikan masa pakainya lebih lama & fungsinya lebih banyak. Tanyakanlah diri sendiri pertanyaan-pertanyaan yang krusial sebelum melakukan pembelian barang. Pertanyaan yang bisa ditanyakan:

  1. Apakah barang ini memberikan nilai lebih untuk saya?”
  2. “Apakah saya benar-benar menyukainya?”, 
  3. “Apakah barang ini harus segera saya miliki?, atau 
  4. Apakah saya membutuhkannya?” 
Photo by Erik Mclean on Unsplash

Saat menjadi minimalis, lebih baik kita bertanya dulu pada diri sendiri dan pahami segala kebutuhannya. Supaya apa yang kita beli nantinya adalah barang yang kita sukai dan butuhkan. Nah hal inidapat memperkecil kemungkinan datangnya penyesalan setelah kita membeli sesuatu.

  1. Mumpung ada promo

Beli karena butuh & seperlunya bukan ketika diskon, mengikuti tren atau tergiur promo. Tidak semua promo harus kalian miliki dan dapatkan, karena tidak semua promo untuk kamu. 

Tak perlu takut ketinggalan promo, karena promo adalah strategi brand dalam menjual produk. Jika kamu melihat promo hari ini, belum tentu besok atau bulan depan kamu tak melihatnya lagi. 

Promo juga sering dibarengi dengan unsur urgensi di dalamnya. Seperti halnya diskon 50% hanya dalam dua jam. Akibatnya, kita lebih cenderung melakukan pembelian secara impulsif. Lain kali saat kita sangat tergoda oleh diskon, keluarlah dari toko baik itu secara online maupun offline dan berikan diri kita masa tenggang selama 15 menit untuk menarik napas. Berikanlah kesempatan untuk merenungkan prioritas keuangan dan daftar belanjaan yang penuh perhatian ataupun sangat penting. Dengan ini, mindset mumpung promo akan lebih mudah dihindari. Eits, tapi boleh juga kok kalau kita pakai mindset ini saat kita memang sudah merencanakan pembelian barang tertentu dengan matang, bukan dilakukan karena lapar mata semata.

  1. Kita butuh lebih banyak storage 

Apakah kita butuh ruang penyimpanan yang lebih banyak dan besar, atau sebenarnya kita memiliki terlalu banyak barang?

Kepemilikan storage yang banyak dapat mendorong kita untuk terus mengisinya, atau bahkan menimbulkan rasa kekurangan apabila tidak mengisinya.⁣

Photo by Ayla Verschueren on Unsplash

Mindset butuh lebih banyak storage dapat dibatasi dengan rasa cukup. Cukup berarti tidak berlebihan, sesuai kebutuhan, & dimanfaatkan. Lakukanlah decluttering dan pilah kembali barang-barang yang ada sebelum memikirkan tambahan storage. Coba ingat mindset ini, kamu tidak butuh banyak storage, mungkin barangmu saja yang terlalu banyak. Ups.

  1. “..Manusia kan nggak pernah puas..”

Katanya manusia memang nggak pernah puas, tapi faktanya kita bisa mengatur batasan kita sendiri. So, you better set your standard! Tentukan batasan kepuasan yang dimiliki supaya kita dapat menemukan arti cukup. Buatlah kriteria dalam membeli sesuatu sesuai kapasitas diri sendiri, sehingga pembelian bukan dilakukan hanya karena promo atau bahkan lapar mata saja. Pakai sampai habis ataupun rusak lebih dulu juga bisa menjadi ukuran kepuasan yang kita miliki. Dengan mengetahui stok barang dan menghabiskannya, kita dapat menyadari batasan yang membuat kita puas. Rayakanlah cukup kita masing-masing yang dapat membuat kita mudah bersyukur dan berbahagia secara long lasting. 

Terkadang strategi belanja yang cermat tidak cukup untuk mengurangi kecanduan belanja yang serius. Apalagi kalau kita memiliki obsesi dengan status sosial, tidak mampu mengatasi kecemasan, ataupun bergantung sepenuhnya pada belanja untuk mendapatkan kepuasan batin, berarti waktunya kita untuk mengganti mindset kita terhadap berbelanja.

Menjadikan retail therapy sebagai sarana stress relief hanya mendatangkan kesenangan sesaat saja, karena dengan belanja kita tidak benar-benar bisa lepas dari stress.

Sebaliknya, tinggalkan mindset yang dekat dengan mindless buying di atas supaya kita berkonsumsi secara bijak dan ringan. Kamu bisa mendengarkan pembahasan tentang 5 mindset mindless buying secara lengkap di podcast Lyfe With Less yang bisa didengarkan di Spotify, Anchor atau Google Podcast.

Bagaimana? mindset mana yang paling sulit untuk kamu tinggalkan? Share di komentar ya!


Writer: Sarah Sofiani
Editor: Cynthia S Lestari.

Tertarik menjadi kontributor kami? Kunjungi link berikut untuk menulis atau email draftmu ke hi.lyfewithless@gmail.com dengan subject: CONTRIBUTOR – NAMA.

0 Shares
2 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Minimalism ThoughtGaya Hidup Minimalis, Bikin Lebih Hemat atau Lebih Boros?

Gaya hidup minimalis seringkali dikaitkan dengan hidup berhemat. Namun sebenarnya konsep hidup minimalis berbeda dengan menjalani hidup hemat. Minimalisme lebih berfokus kepada segala sesuatu yang bermanfaat dan berarti terlepas dari nilai materialnya. Sedangkan, hidup berhemat, merupakan kondisi dimana seseorang mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap pengeluaran finansialnya dan memiliki prioritas keuangan.