Home Decor Tanpa Tekor Ala Dhatu Rembulan

0 Shares
0
0
0

Fenomena tren konten estetik home decor yang membawa istilah minimalis bertebaran di berbagai platform media sosial. Banyak orang mempercantik huniannya sesuai rekomendasi para influencer ternama, berharap rumahnya akan lebih “estetik” dan “minimalis”. 

Sayangnya konten dekorasi estetik ini seringkali dikaitkan dengan minimalisme, padahal desain minimalis dan gaya hidup minimalis adalah dua hal yang berbeda. 

Jadi, sebenarnya apakah kita bisa mendekorasi hunian sekaligus tetap #BelajarJadiMinimalis? Sama gak sih gaya hidup minimalis dan konsep dekorasi minimalis? 

https://www.instagram.com/dhaturembulan/

LWL berkesempatan untuk berbincang dengan seorang Ibu rumah tangga, content creator, sekaligus home decor enthusiast, Dhatu Rembulan. Ia sudah membagikan konten tentang dekorasi rumah sebelum menjadi tren seperti sekarang. Dhatu, biasa disapa sudah menggemari dekorasi sejak pindah rumah 7 tahun lalu, karena merasa harus menghidupi rumah dengan energi yang bahagia dan nyaman. Walaupun menyukai pernak-pernik estetik, ia tetap berusaha mindful saat memilih produk untuk disimpan di rumah, supaya rumah tetap nyaman ditinggali.

“Kita gak akan pernah merasa cukup, kalau kita gak bersyukur” 

Dhatu Rembulan

Makna cukup bagi Dhatu adalah tentang bersyukur, bahkan bernapas sekalipun adalah hal yang perlu kita syukuri dari hidup. Jadi, cobalah untuk belajar bersyukur dimulai dari membuka mata di pagi hari, sehingga kita dapat merasakan makna berkecukupan di sepanjang hari. Sama halnya ketika kita menata isi rumah! Sampai kapan pun kita gak akan mungkin merasa rumah kita cukup, apabila kita gak bersyukur ditambah lagi kalau harus membandingkannya dengan orang lain di sosial media.

“Ketika konten dekorasi bertebaran, akan jadi berbahaya jika malah membuat kita jadi konsumtif dan insecure”

Dhatu Rembulan
https://www.instagram.com/dhaturembulan/

Fenomena home decor estetik dengan desain minimalis seperti berwarna netral, seringkali dikaitkan dengan gaya hidup minimalis. Padahal tentu saja bentuk desain dan gaya hidup adalah dua hal berbeda yang pemahamannya pun berbeda. Selain tren menghias rumah semakin berkembang setelah pandemi, platform seperti sosial media juga marketplace pun mendukung sehingga informasi produk dekorasi ini cepat tersebar. Ditambah lagi, tak hanya content creator, semua orang pun bisa membuat video shopping haul, unboxing, bahkan ‘video racun’ yang membuat tren ini semakin pesat. Eits, padahal sadar atau tidak, setiap tren akan datang dan pergi! Dan suatu saat tren home decor estetik ini pun mungkin saja berganti lagi. Jadi pastikan kita membeli karena fungsi barang tersebut benar kita butuhkan dalam rumah, bukan hanya karena kita merasa khawatir akan tidak bahagia jika tidak memilikinya. Apalagi hanya untuk alasan estetik! Karena barang fungsional masih lebih baik daripada barang yang hanya estetik saja. Lalu apa sih estetik itu?

“Estetik itu adalah ketika aku melihat hal yang bikin aku happy, keindahan jadi jangan sampai dikelompokkan dan dipersempit maknanya”

Dhatu Rembulan

Menurut Dhatu, kita nggak perlu menyamaratakan hal yang dianggap estetik secara umum, karena definisi estetik atau indah sangat luas dan akan berbeda untuk setiap orang. Jangan sampai kata estetik itu overused dan dapat mempersempit maknanya. Estetik itu subjektif, beda orang beda selera, beda pendapat. Termasuk halnya estetik dalam gaya hidup minimalism yang seringkali ditangkap hanya untuk memiliki barang berwarna netral seperti hitam dan putih. Padahal selera orang bisa jadi berbeda dan selama kita membeli dan mengkonsumsinya secara sadar tentu hal ini masih dikategorikan sebagai minimalism

Content haul decor yang semakin marak sejak pandemi memiliki efek positif dan negatif. Selama membeli secukupnya tentu akan dapat bermanfaat untuk memberikan kenyamanan dan semakin betah di rumah, tapi sayangnya ketika sudah berlebihan dan konsumtif malah dapat menimbulkan clutter

Konten perestetikan yang belakangan jadi trending ini dapat membuat banyak orang berpotensi menjadi impulsif. Dhatu sendiri sebagai content creator menyadari hal ini, oleh karenanya ia merasa harus lebih selektif saat mempromosikan produk yang bekerjasama dengannya. Jangan sampai apa yang disampaikan pada khalayak ditangkap berbeda terutama dalam melabeli desain yang minimalis sebagai bagian dari gaya hidup minimalism. Persepsi yang salah kaprah tentang gaya hidup minimalism ini tentu akan berbahaya jika ditanggapi oleh awam yang belum mempelajarinya. 

https://www.instagram.com/dhaturembulan/

“Jadikan rumah menjadi tempat tinggal yang nyaman, jangan sampai menjadikannya tempat penyimpanan”

Gaya hidup minimalis pun tidak ekstrim dan terlalu mengelompokkan selera seseorang menjadi harus monochrome untuk menjadi minimalis. Justru sebaliknya, gaya hidup ini mendorong kita untuk lebih mindful atau sadar saat hendak melakukan konsumsi. Bukan hanya mempertimbangkan aspek visual yang sedang tren, tapi lebih penting dari itu adalah tentang kebutuhan fungsional serta selera secara personal. 


#BijakBerkonsumsi adalah saat kita memiliki prinsip saat membeli sesuatu. Kita pasti mau punya barang yang enak diliat, “spark joy”, sekaligus nyaman untuk kita. Oleh karena itu, hiaslah rumah kita masing-masing secara sadar dan bijak. Lakukan apapun yang bikin kita bahagia dan nyaman di rumah sesuai kata hati bukan hanya “katanya”. Ingat ya, home dekor boleh, asal jangan sampe tekor!


Writer: Sarah Safira Sofiani

Tertarik menjadi kontributor kami? Kunjungi link berikut untuk menulis atau email draftmu ke hi.lyfewithless@gmail.com dengan subject: CONTRIBUTOR – NAMA.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like