Belajar Menerima Fitrah Dari Komunitas Memelihara Keriting

0 Shares
0
0
0

Salah satu esensi dari gaya hidup minimalis adalah bersyukur atas apa yang sudah didapatkan dari Tuhan dan alam. Termasuk bersyukur atas fitrah fisik kita. Bersyukur di sini bukan hanya soal kebendaan, tetapi juga soal bagaimana kita bisa menerima kenyataan mengenai identitas yang kita miliki.

Lyfe With Less menemukan satu komunitas unik dari Bandung yang menamai mereka sebagai Komunitas Memelihara Keriting. Komunitas Memelihara Keriting digagas oleh Theoresia Rumthe, seorang penulis buku yang salah satu karyanya adalah Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai. Siapa sangka, di balik figurnya sebagai seorang penulis, Theoresia menggagas satu komunitas unik yang cukup menggelitik karena komunitas ini hadir untuk mewadahi cerita-cerita keseharian orang-orang berambut keriting.

Yuk kenal lebih dekat dengan Komunitas Memelihara Keriting dan belajar menerima fitrah dari mereka lewat interaksi kami berikut:

Boleh share dulu bagaimana Mbak Theo memaknai “cukup”? dan apa “cukup” versi mbak?

Cukup bagi saya adalah bersetia pada saat ini. dengan kalimat lain:

kesusahan sehari cukuplah untuk sehari begitupun kegembiraan sehari cukuplah untuk sehari. hal-hal besar atau kecil, senang atau susah, yang kita terima di dalam hidup ini, hanya sementara saja. seiring dengan bergulirnya waktu, ‘semua hal-hal’ itu akan berganti. sebaiknya, kita belajar untuk bersetia dengan saat ini, bersungguh-sungguh menjalani hari ini, dan tidak perlu khawatir tentang hari depan.

Boleh ceritakan sedikit mengenai memelihara keriting? dan apakah ini adalah sebuah movement? apa saja programnya?

Ya, dapat dikatakan Memelihara Keriting adalah sebuah gerakan. semoga saja ia menjadi sebuah nilai baru yang mengajak perempuan atau laki-laki untuk menerima tubuhnya, dalam konteks gerakan ini ialah rambut keriting, tanpa perlu merasa perlu memanipulasi atau menyembunyikannya. niat memelihara keriting adalah pertama, mengajak perempuan atau laki-laki untuk keluar dari sebuah keterjebakan nilai palsu dan definisi keelokan skala kerumunan. Kedua, membuat nilai baru di dalam dirinya bahwa sebaiknya-baiknya seorang manusia, ia mesti belajar untuk menerima tubuhnya, baik kelebihan maupun kekurangannya.

Photo oleh Ruri Fitriyanti, https://www.instagram.com/memeliharakeriting/
Photo oleh Ruri Fitriyanti, https://www.instagram.com/memeliharakeriting/

Gerakannya saya lakukan melalui instagram @memeliharakeriting. Sebab ini adalah ‘sebuah catatan harian untuk perempuan dan laki-laki dengan rambut keritingnya’, maka saya mengumpulkan cerita. Cerita-ceritanya berisi dua hal, pertama, “Pengalaman unik (baik yang menyenangkan/tidak menyenangkan) dengan rambut keritingmu” dan kedua “Alasan kamu memelihara keritingmu”. Dari sini saya harapkan, pembaca dapat mengambil ‘pelajaran’ dari cerita-cerita yang masuk.

Selanjutnya, saya melakukan pertemuan Memelihara Keriting. Sudah terjadi di Bandung, Salatiga & Ambon. Acaranya berupa ‘ngobrol’ dan ‘mendengarkan’ diselingi dengan musik dan puisi.

Photo oleh Ruri Fitriyanti, https://www.instagram.com/memeliharakeriting/
Photo oleh Ruri Fitriyanti, https://www.instagram.com/memeliharakeriting/
Photo oleh David Christofer dari https://www.instagram.com/memeliharakeriting/
Photo oleh David Christofer dari https://www.instagram.com/memeliharakeriting/

Apa yang membuat Mbak Theo akhirnya sadar bahwa rambut keriting adalah sebuah identitas? dan bagaimana mbak Theo menerima akan keunikan itu?

Sebuah proses yang cukup panjang juga. Sebab gerakan ini, juga lahir dari pengalaman pribadi saya. Saya lahir, tumbuh, dan besar dengan rambut keriting dan tinggal (berasal) dari kota Ambon, Maluku. Ketika melewati masa-masa itu, saya sering diledek dengan rambut keriting saya. Padahal, dapat dikatakan kami orang Maluku, punya kecenderungan berambut keriting secara genetik. Ledekan itu membuat saya tumbuh menjadi orang yang tidak percaya bahwa rambut keriting juga adalah sesuatu yang elok. Belum lagi gempuran media pada saat itu, rasanya jarang sekali saya melihat orang berambut keriting di televisi. Tapi long story short, saya merantau dan tinggal di Bandung. Saya menjadi penyiar radio di sebuah radio swasta, berjumpa dengan banyak orang, dan mulai belajar bahwa manusia di sekitar saya begitu beragam. Tidak ada satupun di antara kita yang sama. Kita dianugerahi dengan keunikan yang luar biasa. Nah, ketika itulah, saya sadar bahwa rambut keriting adalah identitas saya. Sejak saat itu, saya lalu berubah menjadi berterima, dan merawat identitas yang saya miliki.

Bagaimana penerimaan diri menjadi penting untuk mbak Theo?

Saya percaya bahwa tubuh adalah tempat saya pulang. Ke manapun saya melangkah, melompat, bahkan berlari, saya membawa tubuh saya. Di sini bagi saya penerimaan kita akan tubuh adalah sesuatu yang penting.

Sebab kalau bukan kita yang memulai untuk menerima tubuh kita, bagaimana kita dapat menerima kehadiran tubuh orang lain. Prinsipnya, segala sesuatu mesti dimulai ‘menerima’ diri sendiri dulu.

Bagian mana yang paling sulit pada proses penerimaan diri? dan bagaimana Mbak Theo akhirnya bisa melewatinya?

Bagian yang paling sulit, adalah menggali. Menggali ke dalam dan menemukan banyak sekali ‘sisi buruk’ di dalam diri manusia. Bayangkan, bukan hanya bentuk tubuh yang (rasanya) buruk, tetapi juga pikiran-pikiran, tujuan, niat yang (nyatanya) buruk di dalam diri kita. Proses ini, sering sekali membuat kita kaget, berlari, dan melompatinya. Untuk kembali lagi, rasanya menolak, rasanya sulit. Tapi, saya harus kembali. Sebab ‘mereka’ adalah bagian dari diri saya. tidak ada jalan lain, saya mesti pulang.

Apa tips, pesan dan harapan mbak Theo untuk teman-teman yang masih ragu, malu dalam menerima keunikan dirinya?

Satu, ambil waktumu, jangan buru-buru. Ingat, setiap manusia perlu waktu. Dua, mulai dari bagian tubuh yang paling kecil: berkenalan, dan kenali karakternya, maka kamu akan gampang menerimanya. Jika itu adalah rambut keriting, mulai kenali bentuk, tekstur, baunya, cara menyisirnya, cara mengurai kekusutannya, cara mengikatnya, hingga shampoo apa yang tepat untuk rambutmu. Seperti sahabat, kita akan mudah menyayangi sahabat kita, jika kita lebih dulu mengenalnya.


#BelajarJadiMinimalis diinisiasikan oleh Lyfe With Less, merupakan ajakan kepada teman-teman yang tertarik mengenal dan mempelajari gaya hidup minimalis untuk mengurangi sifat konsumtif & impulsif di Indonesia.

Lebih banyak informasi dan sharing mengenai gaya hidup minimalis di Indonesia bisa kamu ikuti di Instagram @lyfewithless. Dengarkan juga podcast Lyfe With Less di Spotify, Anchor, Google Podcast, Radio Public dan Breaker.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like