Decluttering Responsibly; Bijak Saat Decluttering

0 Shares
0
0
0

“Kamu kok buang buang barang di rumah sih?”
“Barang Ibu mana ya? apakah kamu buang juga kemarin?”

“Waduh aku perlu barang yang aku decluttering kemarin, tapi terlanjur dibuang”

Apakah kamu adalah orang yang merasakan atau mendapatkan pertanyaan di atas setelah menjalani decluttering? Dari pertanyaan diatas, bisa terindikasi bahwa kamu belum melakukan decluttering dengan bijak lho. Yuk kita bahas gimana caranya agar lebih bijak pada saat decluttering.

Di artikel sebelumnya, kita telah membahas apa itu definisi dari decluttering dan pentingnya untuk selalu #BijakBerkonsumsi agar proses decluttering selanjutnya semakin mudah & efisien. 

Baca artikel Decluttering Bukan Solusi, #BijakBerkonsumsi Sedari Awal!

Minimalism atau hidup minimalis bukan berarti tentang seberapa banyak barang yang kamu punya atau seberapa banyak barang yang telah kamu declutter, namun yang perlu kita garis bawahi adalah bagaimana dari proses mempunyai barang lebih sedikit dan melalui proses decluttering, kamu bisa meningkatan kesadaran atau mindfulness terhadap diri dan sekitar, sehingga segala sesuatu kamu lakukan dengan intentional atau dengan bijak. 

Baca juga artikel Yuk Tanggung Jawab dengan Hasil Declutteringmu

Karena saat decluttering, kita bukan hanya membuang barang berlebih, tapi kita juga harus dapat secara bijak menyalurkan setiap barang dengan tepat. Eits, jangan lupa lakukan evaluasi kembali setiap memilih saluran distribusi hasil declutteringmu ya!

Jangan kuatir, kamu bisa aplikasikan cara-cara atau sistem yang akan dibahas kali ini, sehingga kamu bisa mulai decluttering dengan lebih bijak. Sistem ini menggunakan kategori untuk memudahkan proses decluttering kamu. Berikut kategori yang akan kita pakai:

  1. Alokasi Ulang (Relocate)

Barang pada kategori ini adalah barang barang yang kita temukan tidak pada tempatnya. Contoh, kita menemukan alat masak yang terletak di dalam kamar kita. untuk kategori ini cukup mudah namun kita tetap memerlukannya untuk sadar bahwa solusinya adalah dengan mengembalikannya kembali ke tempat atau ruangan yang semestinya, bukan justru langsung memutuskan untuk membuangnya.

Photo by Blue Bird
  1. Perbaiki (Restore)

Kategori kedua adalah jika kamu menemukan barang yang kamu temukan mempunyai minor atau kerusakan kecil. Contoh, celana jeans kamu kesayangan kamu terdapat robekan kecil atau kancing pakaian terlepas. Akan lebih baik dan lebih hemat jika jeans dan atau kancing tersebut dijahit kembali, dibanding segera memutuskan untuk langsung membuangnya. Kuncinya adalah repair jika memang barang tersebut setelah diperbaiki masih bisa berfungsi seperti fungsi awalnya.

Photo by Los Moertos Crew
  1. Daur Ulang (Recycle)

Kategori ini bertautan dengan kategori Restore, dimana jika barang tersebut ternyata tidak dapat diperbaiki maupun sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, alih-alih kita langsung membuangnya, apakah barang tersebut bisa kita alih fungsinya menjadi fungsi yang lain? Contohnya, jika kita mempunyai gelas kaca kemasan yang sudah tidak dapat digunakan untuk menyimpan makanan lagi, apakah gelas kaca tersebut bisa kita gunakan untuk fungsi yang lain, untuk menyimpan barang non-cair seperti container alat tulis maupun benda padat lainnya.

Photo by Anastasia Shuravea
  1. Donasikan (Donate)

Ingat, gunakan kategori ini jika kita merasa bahwa barang yg kita temukan sudah tidak kita perlukan lagi dan harus dalam kondisi yang layak pakai ya. Donasi bukanlah sama dengan membuang barang yang sudah tidak kita gunakan dan sudah tidak kayak pakai. Kita harus bijak karena barang yang kita donasikan akan digunakan kembali oleh orang lain selayaknya kita menggunakan barang tersebut sebelumnya. Tanyakan kepada diri sendiri “apakah barang ini masih layak digunakan jika aku adalah orang yang mendapatkan donasi barang ini dari orang lain?”. Dengan pertanyaan ini, kamu bisa memvalidasi apakah barang ini masih layak atau tidak, karena jika jawaban dirimu adalah tidak layak, maka begitupun orang lain yang akan menerima barang kamu.

Photo by Liza Summer
  1. Buang (Remove)

Ini adalah kategori terakhir, yaitu bila barang yang kamu temukan sudah tidak mempunyai value maupun fungsi kepada dirimu, dan juga tidak layak untuk diberikan atau didonasikan kepada orang lain, maka akan kamu buang. Ingat, jangan lupa untuk mengambil hikmah dan pembelajaran dari barang yang dibuang tersebut agar kamu semakin bijak dalam membeli barang dan berkonsumsi. Tidak perlu membeli kembali barang baru yang sama apabila kamu sudah tahu tidak membawa value atau manfaat.
Jangan lupa juga untuk bijak dalam membuang hasil declutteringmu dengan memastikan bahwa limbah barang tersalurkan ke pembuangan yang tepat. Carilah tempat atau lembaga yang bisa mengelola sampah secara bijak dan bertanggung jawab sehingga sampah kita dapat diolah dengan lebih baik tanpa mengurangi pencemaran untuk lingkungan

Photo by Ketut Subiyanto

Dengan 5 kategori ini, kamu jadi punya opsi bahwa barang decluttering tidak harus semuanya dibuang. Kategori ini digunakan untuk membantu kami lebih bijak dalam memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap barang-barang yang kamu declutter. 

Eits tapi, kalau kamu sering merasa cemas saat membuang barang yang sudah tidak terpakai lagi baca artikel Waspada Hoarding Disorder untuk mengetahui alasannya ya!

Happy decluttering!


Writer: Allan Fadlansyah

Editor: Sarah Safira Sofiani & Cynthia S Lestari.

Tertarik menjadi kontributor kami? Kunjungi link berikut untuk menulis atau email draftmu ke hi.lyfewithless@gmail.com dengan subject: CONTRIBUTOR – NAMA.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Minimalism ThoughtGaya Hidup Minimalis, Bikin Lebih Hemat atau Lebih Boros?

Gaya hidup minimalis seringkali dikaitkan dengan hidup berhemat. Namun sebenarnya konsep hidup minimalis berbeda dengan menjalani hidup hemat. Minimalisme lebih berfokus kepada segala sesuatu yang bermanfaat dan berarti terlepas dari nilai materialnya. Sedangkan, hidup berhemat, merupakan kondisi dimana seseorang mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap pengeluaran finansialnya dan memiliki prioritas keuangan.