Gonta Ganti Skincare Memicu Perilaku Konsumtif yang Tidak Sehat

0 Shares
0
0
0

Skincare sudah menjadi “trend” sekarang. Setiap hari ada saja produk-produk atau brand baru yang bermunculan di marketplace atau sosial media. Belum lagi seolah semua orang ingin menjadi influencer, brand ambassador, atau skin guru dalam “dunia skincare“. Padahal mereka yang seringkali menjadi panutan kita dalam membeli produk kecantikan ini, tidak memiliki dasar akan ilmu dermatology dan bahkan tidak memiliki basic pendidikan tentang kulit sama sekali.

Dengan review dan proses promosi produk kecantikan yang ada saat ini, sangat sulit rasanya melawan keinginan mencoba skincare baru. Rasanya ingin cepat-cepat melihat hasilnya, inginnya langsung glowing! Diantara banyaknya iklan dan promosi yang digemborkan di sosial media kita tentang produk skincare yang selalu baru, tahukah kamu efek samping dari penggunaan skincare yang berganti-ganti?

Mengganti produk skincare terlalu sering tidaklah sehat untuk kulit karena dapat memperlambat progress dari kulit dan menyebabkan resistensi kulit terhadap beberapa zat. 

Banyaknya zat yang masuk ke dalam kulit dari berbagai produk dapat menyebabkan penurunan respons kulit pada suatu zat. Selain itu, pencampuran zat dalam skincare yang terlalu banyak dapat menurunkan kemampuan atau efikasi produk itu sendiri, sehingga hasil yang didapatkan pun tidak maksimal. Oh no! jangan sampai malah tidak mempan menggunakan skincare apapun?

Untuk menahan penggunaan berlebih dan gonta-ganti skincare, kita perlu tahu bahwa secara tidak sadar banyak sekali faktor yang membuat kita mengkonsumsi produk ini secara berlebih. Ini dia beberapa faktor yang mendasarinya!

  1. Kemasan
    Faktor pertama yang paling sering adalah faktor kemasan atau packaging yang ditampilkan, pandangan pertama memang sering sekali menarik perhatian. Kita sering terburu-buru untuk check out produk baru karena tertarik melihat kemasan yang ditampilkan atau dikarenakan terpengaruh dengan review influencer A atau, sehingga tidak terlebih dahulu memikirkan hal lain seperti kandungan zat nya dan tidak research secara teliti produk tersebut terlebih dahulu. 
  1. Kandungan/ Zat
    Kandungan skincare yang ditawarkan. Dulu kita kurang peduli pada nama-nama zat kimia yang terkandung dalam suatu produk, sekarang penamaan bahan kimia seolah wajib ada di setiap skincare agar konsumen bisa tahu bahwa produknya mengandung bahan tertentu. Masalahnya, banyak kandungan baru yang ternyata kandungan belum valid diteliti atau belum ada approved dalam lembaga dunia medis atau farmasi. Contohnya adalah bakuchiol sebagai pengganti retinoid.
  1. Trend / Viral
    Faktor lain yaitu trend skincare yang dibuat hits atau viral di pasaran. Misalnya ada merk yang mendapatkan award dari akun tertentu atau rank #1 penjualan marketplace A dan lain sebagainya. Dan juga faktor dari mana negara skincare ini berasal misal: korean skincare sedang hits sekarang daripada skincare lokal maupun western

Masih banyak faktor lainnya yang memacu kita untuk mengganti terus produk skincare kita. Bagaimanapun, faktor-faktor tersebut belum tentu menandakan kecocokan atau improve pada kesehatan kulit kita.

photo by Birgith Roosipuu on Unsplash

Menurut penelitian, kulit kita akan memerlukan penyesuaian sekitar 8 minggu untuk mencoba suatu produk skincare baru.

Interval waktu penyesuaian skincare baru ini memang beragam, tergantung jenis kulit, kondisi kulit dan produk itu sendiri. Tapi, untuk hal ini, saya sendiri mengambil waktu 2 bulan secara umum untuk membiarkan kulit “bernafas” dan mengembalikan atau mereset ulang homeostatis atau keseimbangan kulit.

Dalam hal ini, semakin sering kamu mengganti produk skincare, maka semakin lambat pula progress kulitmu terhadap suatu zat. Jadi, jangan tergiur dengan klaim instan seperti “brighten your skin immediately and instantly”. Banyak  pengguna skincare yang merasa bosan menunggu dan akhirnya mengganti lagi produk dengan merek yang lain. Skincare yang baru dibeli akan dibiarkan kadaluarsa atau dibuang secara percuma dan tentu saja akan menambah perilaku konsumtif yang tidak sehat serta menimbulkan sampah bagi lingkungan. 

Walaupun terdapat juga produk yang benar-benar memberikan hasil “instan” seperti sulap, namun proses fadingnya pun akan cepat juga. 

Proses fading yang dimaksud adalah hasil instan penggunaan skincare yang bisa kita lihat secara cepat namun tidak bertahan lama. Contohnya saja pada produk-produk eye treatment dengan kandungan kafein, zat yang bersifat mempengaruhi peredaran darah. Produk ini dijadikan solusi untuk keluhan mata panda seperti dark circle dan puffy eyes. Dark circle dikarenakan hiperpigmentasi atau pigmentasi yang berlebihan, sementara puffy eyes terjadi akibat pembengkakan cairan di pembuluh darah akibat stress, kehamilan, menstruasi, atau terlalu sering mengkonsumsi makanan asing. Dalam menangani kantung mata atau puffy eyes, produk skincare biasanya menggunakan kafein topikal karena sifat vasokonstriksi atau mengecilkan pembuluh darah. Padahal, penelitian akan efek jangka panjang caffein topical untuk mengatasinya pun belum banyak tervalidasi. So, you might actually see results quickly, but they’ll fade quickly, too.

The main rules of using skincare is: If you find something that works well for you, stick with it!

Boleh saja apabila kita membuka diri pada setiap perkembangan dan inovasi dalam dunia skincare. It’s a good thing! karena dunia keilmuan semakin berkembang pula. Namun, gantilah produk skincaremu jika memang benar-benar sudah diperlukan. Jangan menggantinya hanya karena ingin mengikuti trend dan nafsu sesaat. Yuk biasakan #PakaiSampaiHabis sekarang juga!


0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

#PakaiSampaiHabisProduk Langsung atau Trial Kit?

Pernahkah terbesit di dalam pikiranmu apakah lebih baik kita membeli produknya secara langsung (full size) atau membeli dalam ukuran kecil (trial kit/ travel size)? Pada artikel ini kita akan bersama – sama mencari tahu bagaimana menentukan keputusan untuk membeli produk langsung atau trial kit terlebih dahulu.