Planner Book, Andalan Untuk #BelajarJadiMinimalis

0 Shares
0
0
0

Kita yang sudah mengenal minimalisme pastinya sudah terbiasa dengan istilah decluttering things, yaitu mengurangi barang yang tidak digunakan lagi termasuk mengurangi jumlah sampah.

Tapi, menjadi seorang minimalis tidak hanya tentang mengurangi barang, mengatur sampah, mengurangi jumlah sampah, mengosongkan ruangan, membersihkan pikiran, yang tidak kalah penting adalah mengurangi aktivitas.

Desi Anwar, yang merupakan figur minimalis di Indonesia  pernah berkata, “Lakukan satu aktivitas dalam satu waktu” atau bisa kita sebut monotasking

© The MInds Journal

Bagaimana bisa di era informasi saat ini kita hanya melakukan monotasking? bisa-bisa kita akan ketinggalan informasi atau kurang update (kudet). Kalau sudah ‘kudet’, bagaimana bisa ikut nimbrung dengan segala informasi yang serba menarik di dunia layar? sedangkan bisa beraktivitas multitasking adalah kebanggaan untuk dipamerkan pada siapa pun, bukan? sebab dengan multitasking harapannya akan memperoleh output yang banyak pula, bukankah dikatakan seorang itu hebat bisa meraih banyak hal dengan multitasking dan multi peran?

Bagi seorang minimalis, tentu saja aktivitas multitasking ini sangat jauh dari makna minimalisme itu sendiri. Secara sederhana, saya memaknai minimalisme itu sebagai mindset untuk menjadi seorang yang mencapai kenyamanan dengan hidup sederhana, kreatif, dan produktif. Hidup nyaman tentu membawa kebahagiaan, bukan? jika kembali pada aktivitas multitasking, yang mana melakukan banyak kegiatan dan tujuan dalam satu waktu, saya pikir aktivitas tersebut sulit untuk dinikmati, apalagi untuk mencapai kenyamanan. Sementara, aktivitas multitasking itu sendiri adalah aktivitas tidak sederhana yang mana melakukan banyak aktivitas secara bersamaan dalam satu waktu akan menimbulkan kerumitan untuk diri sendiri dan sulit menikmati setiap kegiatan yang sedang dikerjakan.

© Botanisera

Multitasking membuat berkegiatan jadi tidak tenang karena diburu-buru oleh kegiatan lain yang harus dilakukan bersamaan.

“Yaah, gimana dong? tugas kuliah kan banyak”

“Mana ada pekerjaan kantor cuma sedikit, semua minta diselesaikan bersamaan”

Prioritas. Itulah jawaban seorang minimalis. Caranya adalah melakukan aktivitas monotasking. Teknisnya? pakailah Planner Book.

Planner book menjadi  andalan untuk para minimalis

Planner book biasanya hanya ditulis sebelum tahun baru dimulai, meskipun sebenarnya kita bisa kapan pun menulis dan membukanya saat ingin mencapai sesuatu dalam waktu tertentu, misalnya membuat resolusi tahun 2021 atau saat kita ingin membuat urutan prioritas kegiatan. Ukuran buku ini sesuai minat, bisa kecil, sedang atau besar yang terpenting mudah untuk dibawa ke mana pun. 

© We Heart It

Konten buku ini terdiri dari aktivitas harian, mingguan, bulanan yang semuanya mengacu pada sebuah tujuan dari penulis tersebut. Kita semua tentu memiliki sebuah tujuan besar dalam satu tahunnya, bukan beberapa tujuan besar dalam suatu waktu. Kenapa? mencapai banyak tujuan dalam suatu waktu membuat aktivitas tidak tenang karena harus membagi waktu dan pikiran untuk tujuan yang berbeda-beda.

Beberapa keuntungan menggunakan planner book bagi seorang minimalis, di antaranya

1.       Membantu mengurutkan kegiatan berdasarkan prioritas kegiatan

2.       Menikmati setiap aktivitas

3.       Membantu memilah barang sebelum dibeli

4.       Pengingat untuk tetap produktif dan kreatif

5.       Mudah mengapresiasi diri sendiri

6.       Menjauhkan diri dari insecure dan overthinking  

Planner book membantuku menjadi seorang minimalis

Planner book adalah pegangan saya menjadi seorang minimalis. Buku ini sangat membantu mengingatkan agar tetap produktif dimulai dari kegiatan kecil per hari, melihat progres bulanan, mengarah pada sebuah tujuan. Tiga poin penting tersebut di-track dalam planner book. Kreativitas seorang minimalis terlihat di sini, di mana minimalis memanfaatkan buku kosong yang sudah ada di lemarinya supaya tidak perlu membeli. Produktivitas juga terlihat di mana minimalis memanfaatkan waktu sesuai tujuannya. Sederhana, bukan?

Menurut saya, sangat penting untuk memiliki planner book. Melihat aktivitas-aktivitas yang sudah dilakukan per hari atau per minggunya sangat membantu kita mengapresiasi diri sendiri sebab kita tahu aktivitas kecil inilah yang membawa pada sebuah tujuan yang telah dibuat. Sebagai contoh, seorang memiliki resolusi menjadi mahasiswa di universitas impian. Lalu, aktivitas kecil yang dilakukan per hari adalah latihan soal. Aktivitas tersebutlah yang dilakukan setiap harinya dan diapresiasi setiap minggunya agar selalu giat berlatih.

Merencanakan aktivitas setiap harinya bukan berarti membuat saya menjadi kaku, tidak fleksibel. Saya menjadi mudah menikmati setiap pekerjaan yang ingin diselesaikan. Caranya, membuat satu target yang realistis untuk satu hari. Tidak perlu banyak target, terkadang satu target tersebut jika saya sudah tenggelam dalam bereksplorasi, tentu akan menjadi aktivitas untuk hari berikutnya. Sangat menyenangkan, bukan? melakukan satu aktivitas tanpa gangguan aktivitas lain untuk target lain yang berbeda pula.

© BuzzFeed

Di era serba informasi dan ketergantungan kita pada media sosial saat ini, planner book membantu para minimalis menjauhkan diri dari rasa  insecure dan overthinking  saat menemukan banyak sumber informasi entah itu facebook, instagram, pinterest, twitter, tiktok, whatsapp, telegram, medium, spotify dan lain-lain. Seolah semua aplikasi tersebut harus kita kunjungi setiap hari bahkan setiap waktu tanpa menimbang-nimbang “apakah saya butuh semua informasi ini?” Jika saya tidak memiliki rencana kecil apalagi rencana besar dalam planner book, saya akan mudah terpengaruh untuk membuka dan tenggelam pada semua informasi yang tidak dibutuhkan. Hasilnya, setelah lepas dan keluar dari media sosial atau sumber informasi lainnya, saya mudah merasa insecure dan overthinking tidak pada tempatnya.      

Apakah kalian juga merasakan hal yang sama?

Tentu, menjadi minimalis tidak membuat saya lepas dari mengakses media sosial dan sumber informasi lainnya dari layar karena saya masih membutuhkannya. Jika tidak dibutuhkan, untuk apa dieksplorasi karena hanya membuat tidak produktif dan menjauhkan dari tujuan yang sudah saya buat di planner book. Informasi sudah didapat, tutup media sosial bila perlu matikan data internet, lanjutkan aktivitas sesuai dengan apa yang sudah direncanakan dalam buku. Jadi, kita sudah tidak sempat lagi untuk insecure dan overthinking.

Apakah kalian juga mempunyai planner book dan terbiasa menggunakannya?

Bagaimana pengalaman kalian setelah menggunakan planner book?


Tulisan ini hasil karya kontributor kami, Lia Jolest

Editor: Cynthia S Lestari.

Tertarik menjadi kontributor kami? Kunjungi link berikut untuk menulis atau email draftmu ke hi.lyfewithless@gmail.com dengan subject: CONTRIBUTOR – NAMA.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like