#SalingSilang FREE MARKET: Cara Asyik Membumikan 5R

0 Shares
0
0
0

Menerapkan  prinsip hidup minim sampah, mungkin terdengar sulit, belum lagi menerapkan 5R— Reduce, Reuse, Repair, Refill, dan Recycle. Namun, bukan berarti acara yang mengusung prinsip ramah lingkungan tak ada. Ini kali pertamanya aku mengikuti acara yang mengusung prinsip tersebut, dan hendak berbagi dengan pembaca pengalamanku kali ini.

Doc by Lyfe With Less

#SalingSilang FREE MARKET Volume 2

Acara ini diinisiasi oleh Lyfe with Less melalui program wadah #SalingSilang. SSFM Vol. 2 merupakan pasar gratis yang memberikan kesempatan bagi 300 pengunjung setiap harinya untuk memberi dan mengadopsi barang bekas layak pakai ke sesama pengunjung lainnya. Setiap pengunjung bisa membawa 5 sampai 7 barang untuk dikurasi. Setelah lolos kurasi, pengunjung akan mendapatkan maksimal 5 token sebagai alat tukar untuk mengadopsi barang milik pengunjung lainnya. Pengunjung juga dapat mengadopsi preloved item gratis dari influencer ternama seperti Valerie Krasnadewi (@valerie.twns), Veronika Krasnasari (@veronika.twns), Wandha Dwiutari (@wandhadwiutari), Andra Alodita (@alodita), Puty Karina (@byputy), Astri Puji Lestari (@atiit), dan beberapa influencer lainnya.

Terbagi menjadi dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, dengan masing-masing hari terdapat dua sesi dan Sustainable Talks. Tak hanya menukar baju layak pakai, tetapi juga terdapat drop box bagi para pengunjung untuk berdonasi baju tidak layak pakai yang akan didaur ulang oleh Ecotouch. Kemudian terdapat stan TUKR, tempat bagi pengunjung untuk menukarkan minyak jelantah untuk didaur ulang dan pengunjung akan mendapatkan kompensasi sebesar 5 ribu rupiah untuk setiap liter minyak jelantah yang ditukarkan. Pada Waste Corner ada start up Octopus yang siap menerima pilahan sampah plastik, kertas, maupun empties-mu. Refill Corner, tempat buat kamu yang hendak membeli produk Unilever tanpa kemasan, kamu bisa membawa wadahmu sendiri. Lalu yang juga tak kalah meriah adalah Repair Corner yang menyadarkanku untuk #PakaiSampaiRusak.

Aku sendiri berkesempatan memperbaiki jeans lungsuran dari ibuku, yang usianya hampir sepuluh tahun. Menukarkan buku, sepatu, dan baju lamaku dengan barang lain yang lebih aku butuhkan.

Doc by Lyfe With Less

Privilese yang Tak Mudah Didapat

Aku berasal dari Kalimantan Timur dan pindah ke Jakarta Selatan untuk bekerja, baru tiga bulan lamanya. Selama jadi ‘anak daerah’ sulit rasanya bagiku untuk mendapatkan akses kegiatan yang asyik seperti ini. Pun setidaknya acara yang dapat menjadi pintu untuk peka terhadap isu sampah dan konsumsi manusia saat ini. Padahal, masalah sampah di Kalimantan Timur juga tak kalah pelik. Pada 6 April 2023 misalnya, Diskominfo Kaltim mengeluarkan rilis upaya DLH Provinsi Kalimantan Timur dalam menekan jumlah sampah laut. Hal ini lantaran 70 persen sampah daratan berakhir di lautan. Padahal, wilayah tempat tinggalku sangat akrab dengan pesisir. Namun, isu ini tidak terasa dekat lantaran tak banyak komunitas, organisasi, atau acara yang mengangkat topik itu. Kalaupun ada, itu kerap normatif, seminar dan workshop yang mungkin tak cukup memikat bagi anak muda zaman sekarang.

Sebelum lulus kuliah, aku kerap berandai-andai acara yang mengelaborasi gaya hidup #BijakBerkonsumsi ini ada di kotaku. Sayang hingga aku lulus, aku belum punya kesempatan untuk mengikuti atau menginisiasi hal itu. Maka aku menulis pesan dan kesan saat SSFM Volume 2 agar acara serupa bisa dilakukan atau memancing inisiasi dan kolaborasi di banyak kota lainnya.

Membuminya Prinsip 5R

Bagiku SSFM Volume 2 ini adalah salah satu cara membumikan 5R—yang kerap dianggap sulit, ribet, dan tidak aplikatif— menjadi lebih mudah dan dekat dengan keseharian masyarakat urban. Sebelum datang ke acara ini, tadinya aku hanya punya kecenderungan untuk mendapatkan ‘sparks joy’ dari penukaran barang lamaku ketika adopsi ‘barang baru’ yang ada di booth.

Namun, setelah menjejal stan demi stan yang tersedia, aku merasa punya kesempatan untuk berkontribusi lebih. Dengan mengelola sampah, memikirkan ulang pilihan-pilihan konsumsiku, menyegarkan pengetahuan dengan mengikuti diskusi, dan berupaya memperpanjang manfaat dari tiap barang yang aku miliki.

Ini juga menjadi salah satu ruang bagi perusahaan ataupun instansi untuk mulai memikirkan opsi-opsi yang lebih ramah lingkungan dan jangka panjang dalam memproduksi sesuatu. Gerakan seperti ini perlu terus dilanggengkan lantaran memberi impact mulai dari penumbuhan kesadaran, sampai ke tahap aksi #BijakBerkonsumsi yang harapannya menekan volume sampah dan mendorong gebrakan yang lebih masif. SSFM Volume 2 ini juga melakukan rekapitulasi acara. Di antaranya ada 95 liter minyak jelantah yang terkumpul untuk dibentuk jadi manfaat lain alih-alih berakhir di tempat pembuangan dan mencemari tanah. Donasi baju tak layak pakai sebanyak 142 kilogram. Ada 48 pakaian yang diperbaiki dan mencegahnya untuk berakhir di tempat sampah. Hingga sampah anorganik sebesar 28 kilogram yang akan didaur ulang.


https://www.pexels.com/photo/assorted-plastic-bottles-802221/

Melansir dari laman Media Indonesia pada Oktober 2022 lalu, menyebutkan bahwa gerakan lingkungan seperti Bijak Berplastik juga dapat menurunkan 14 persen volume sampah di TPA. Artinya, untuk menaikkan jumlah impact itu, perlu inisiasi yang menyasar berbagai kalangan: mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja, serta dilakukan di berbagai daerah. Itu hanya gambaran bahwa satu gerakan yang berfokus pada sampah plastik saja punya dampak yang signifikan, belum lagi gerakan yang mampu mengelaborasi penerapan 5R (mulai dari sampah fesyen, hingga sampah konsumsi rumah tangga) seperti SSFM yang diadakan Lyfe With Less tahun ini. Tentunya, aku amat menantikan kolaborasi lainnya yang lebih banyak di daerah lain, agar semakin banyak orang yang #BijakBerkonsumsi!

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like