Waspada Hoarding Disorder!

0 Shares
0
0
0

Hoarding dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai menimbun atau penimbunan. Perilaku Hoarding yang lebih dikenal sebagai Hoarding Disorder merupakan kebiasaan seseorang untuk membeli, memperoleh, mencari, dan menyimpan barang-barang terlepas dari nilai atau kegunaannya. Selain mengumpulkan barang, seseorang dengan Hoarding Disorder (biasa disebut sebagai Hoarder) memiliki kecemasan untuk membuang barang yang sudah tidak terpakai lagi. Akhirnya terjadi penumpukan karena akumulasi barang yang dilakukan secara terus menerus dan tetap disimpan. Sering dianggap sepele, kenyataannya Hoarding adalah kondisi psikologis yang ekstrem. Pada kasus yang sangat parah timbunan barang sudah memenuhi seluruh ruang tempat tinggal, membuat ruang gerak menjadi terbatas, dan membawa dampak buruk terhadap kesehatan.

Source: Getty Images

Lantas apa penyebab seseorang menjadi seorang Hoarder? 

Penyebabnya sendiri beragam, namun yang paling umum biasanya dimulai dengan adanya kekhawatiran bahwa barang yang dimiliki akan dibutuhkan ataupun berguna kedepannya. Hoarding juga dapat terjadi karena adanya perasaan emosional terhadap suatu barang, misalnya barang tersebut memiliki sejarah atau kenangan tertentu. Selain itu, Hoarding Disorder bisa diderita karena beberapa hal lainnya, seperti jika seseorang mengalami peristiwa traumatis, memiliki penyakit mental, ataupun karena memiliki anggota keluarga yang juga menderita Hoarding Disorder.

Perilaku Hoarding tidak serta-merta dapat terlihat atau dikenali begitu saja. 

The National Study Group on Compulsive Disorganization dari Amerika membuat Clutter Hoarding Scale untuk menentukan tingkat Hoarding yang dapat membantu baik para profesional maupun masyarakat awam dalam memahami Hoarding Disorder:

https://www.instagram.com/p/CUo3n4IlgOV/
  1. Level 1

Pada level ini perilaku Hoarding tidak begitu terlihat dan masih sulit untuk diidentifikasi. Jumlah clutter atau barang yang menumpuk belum terlalu banyak. Masih ada akses untuk berjalan dan bergerak di dalam tempat tinggal. Namun pada level ini sudah timbul kebiasaan untuk mengakumulasi barang secara tidak wajar dan kesulitan untuk membuang barang yang sudah tidak terpakai.

  1. Level 2

Keadaan tempat tinggal sedikit berantakan dan masih ada akses untuk berjalan. Tumpukan clutter sudah mulai terlihat di beberapa ruangan atau bagian tempat tinggal. Biasanya ada salah satu perabotan (mesin cuci, kompor, pendingin ruangan, atau lainnya) yang setidaknya selama 6 bulan sudah tidak dapat berfungsi. Hal tersebut karena Hoarder cenderung untuk tetap menyimpan barang yang sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Selain itu, perawatan terhadap barang yang sebenarnya berguna menjadi luput karena banyaknya tumpukan barang. Di tahap ini kebersihan di dalam rumah juga mulai berkurang, tempat sampah meluap dan terdapat jamur ringan di kamar mandi atau dapur. Individu sudah mulai menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa malu dengan kondisi tempat tinggalnya.

  1. Level 3

Individu pada tingkat ini mungkin memiliki kebersihan pribadi yang buruk, masalah pengendalian berat badan, dan tekanan emosional ketika dikonfrontasi mengenai kondisi rumah ataupun gaya hidup mereka. Kondisi rumah yang berantakan mulai terlihat dari luar rumah karena clutter juga mulai menumpuk di bagian luar. Sementara di bagian dalam rumah terdapat satu ruangan seperti tempat tidur maupun kamar mandi yang sudah tidak bisa dipergunakan lagi. Bau tidak sedap juga semakin jelas tercium di seluruh rumah karena banyaknya sampah dan menumpuknya debu.

  1. Level 4

Pada Hoarding level 4 baik akses masuk dan keluar sulit dilewati, bahkan ada salah satu akses yang sudah tertutup sama sekali. Kemudian, di bagian dalam rumah kondisinya juga  sulit untuk dilewati dan banyak terdapat serangga serta kotoran hewan. Banyak perabotan yang sudah rusak dan terdapat beberapa jendela, pintu, ataupun bagian tembok yang perlu diperbaiki. Selain itu, tidak terdapat peralatan makan yang bersih. Keadaan psikis seseorang sangatlah buruk pada level ini dan biasanya memiliki kondisi kebersihan pribadi yang parah karena tidak mandi selama berminggu-minggu.

  1. Level 5

Kondisi terburuk seorang Hoarder adalah pada level ini. Biasanya Hoarder menumpang di tempat teman atau kerabat karena kondisi rumah yang sangat buruk. Beberapa bahkan harus menghadapi konsekuensi hukum karena mengganggu kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal. Pada tahap ini tidak ada air bersih maupun listrik yang berjalan di dalam rumah. Kondisi kebersihan di dalam rumah sangat parah sehingga setiap permukaan sudah tertutup sampah dan terdapat urin ataupun feses manusia yang disimpan di bagian dalam rumah.


Writer: Daniya Nahdi

Editor: Sarah Safira Sofiani & Cynthia S Lestari.

Tertarik menjadi kontributor kami? Kunjungi link berikut untuk menulis atau email draftmu ke hi.lyfewithless@gmail.com dengan subject: CONTRIBUTOR – NAMA.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like

Minimalism ThoughtGaya Hidup Minimalis, Bikin Lebih Hemat atau Lebih Boros?

Gaya hidup minimalis seringkali dikaitkan dengan hidup berhemat. Namun sebenarnya konsep hidup minimalis berbeda dengan menjalani hidup hemat. Minimalisme lebih berfokus kepada segala sesuatu yang bermanfaat dan berarti terlepas dari nilai materialnya. Sedangkan, hidup berhemat, merupakan kondisi dimana seseorang mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap pengeluaran finansialnya dan memiliki prioritas keuangan.